Jakarta - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat dan Kalimantan Selatan masih menjadi perhatian Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Hingga 1 September 2026, total luas lahan yang terbakar di dua provinsi tersebut mencapai sekitar 859 hektare.
Kondisi paling mengkhawatirkan terjadi di Kalimantan Barat. Selain ratusan hektare lahan terbakar, kualitas udara di sejumlah wilayah dilaporkan telah berada dalam kategori berbahaya.
Plt Kepala Pusdatin dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, mengatakan jarak pandang di sejumlah wilayah Kalimantan Barat bahkan telah menurun hingga di bawah satu kilometer.
“Kualitas udara di sana tergolong berbahaya dengan jarak pandang di bawah satu kilometer,” kata Berton dalam konferensi pers di Graha BNPB, Jakarta, Rabu (02/09/2026).
BNPB mencatat terdapat 31 titik panas di Kalimantan Barat dengan luas lahan terbakar mencapai lebih dari 511 hektare. Dari jumlah tersebut, sekitar 135 hektare lahan telah berhasil dipadamkan.
Untuk mempercepat penanganan, sebanyak 14.563 personel dikerahkan dalam operasi darat di 25 lokasi prioritas yang tersebar di delapan kabupaten dan kota.
“Operasi darat dilakukan di 25 lokasi prioritas yang tersebar di delapan kabupaten dan kota,” ujar Berton.
Pemadaman juga dilakukan melalui jalur udara dengan mengerahkan empat helikopter untuk operasi water bombing. Sekitar 48 ribu liter air telah dijatuhkan dan berhasil memadamkan sekitar enam hektare lahan.
BNPB turut melakukan operasi modifikasi cuaca dengan menaburkan 800 kilogram garam. Namun, upaya tersebut belum menghasilkan hujan karena pertumbuhan awan di wilayah operasi masih minim.
Sementara itu, kondisi karhutla juga masih terjadi di Kalimantan Selatan. BNPB mencatat 29 titik panas dengan luas lahan terbakar sekitar 348 hektare. Lebih dari 80 hektare di antaranya telah berhasil dipadamkan.
Operasi pemadaman dilakukan melalui jalur darat dan udara dengan mengerahkan lima helikopter. Water bombing berlangsung selama 10 jam 28 menit dan difokuskan di sejumlah wilayah terdampak.
“Water bombing kita fokuskan di Banjar dan Banjarbaru,” kata Berton.
Dalam operasi tersebut, sekitar 1,2 juta liter air dijatuhkan dan berhasil memadamkan sekitar 58 hektare lahan. BNPB juga terus memantau titik-titik karhutla di Barito Kuala, Banjar, Tapin, dan Balangan.
Menurut Berton, proses penanganan karhutla di Kalimantan Selatan masih menghadapi sejumlah kendala, mulai dari sulitnya akses menuju lokasi kebakaran hingga kondisi angin dan asap di lapangan.
“Di lapangan (petugas) ada beberapa kendala, seperti akses yang sulit, sumber air yang cukup jauh, luasan lahan, serta pengaruh angin dan asap,” ujarnya.
Kalau mau, aku juga bisa buatkan 3 pilihan angle lain dari bahan yang sama, misalnya fokus 859 hektare lahan terbakar, operasi water bombing, atau modifikasi cuaca yang belum berhasil menghasilkan hujan.






