Jakarta – Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Timur terus mendorong pengurangan volume sampah dari sumbernya melalui penerapan sistem pilah dan pengolahan sampah di lingkungan Kantor Wali Kota.
Salah satu langkah yang diterapkan yakni penyediaan biopori berukuran besar untuk mengolah sampah organik menjadi kompos. Program tersebut juga diperkuat dengan penyediaan sejumlah titik pemilahan sampah untuk jenis botol, kertas, kardus hingga sampah anorganik lainnya.
Di sela rangkaian kegiatan peringatan HUT ke-499 Jakarta, Wali Kota Administrasi Jakarta Timur Munjirin turut meninjau sekaligus memasukkan sampah organik ke dalam biopori yang telah disiapkan di area kantor.
Menurut Munjirin, langkah tersebut menjadi bagian dari upaya membangun kebiasaan pengelolaan sampah sejak dari lingkungan perkantoran sebelum diterapkan lebih luas di masyarakat.
“Area Kantor Wali Kota yang cukup luas ini juga kami siapkan biopori-biopori jumbo sebagai bagian dari pengelolaan sampah,” ujar Munjirin, Senin (22/06/2026).
Selain pengelolaan sampah organik dan anorganik, Pemkot Jakarta Timur juga menggencarkan pengumpulan minyak jelantah dari pegawai dan masyarakat. Minyak jelantah yang terkumpul nantinya akan diolah kembali agar memiliki nilai ekonomi, salah satunya menjadi bahan baku biodiesel.
Program tersebut dilakukan melalui kerja sama dengan Yayasan Rumah Kutub yang bertugas menampung dan mengelola minyak jelantah dari Kantor Wali Kota Jakarta Timur.
“Setiap pekan minyak jelantah dikumpulkan di kantor, lalu akan diambil dan ditampung oleh mitra pengelola,” tambahnya.
Dalam kesempatan yang sama, Pemkot Jakarta Timur juga memberikan apresiasi kepada warga Kecamatan Cakung bernama Santi atas kontribusinya menjalankan program pilah sampah di lingkungan tempat tinggalnya.
Pemkot berharap langkah tersebut dapat mendorong partisipasi warga dalam memilah sampah sehingga volume sampah yang dibuang ke tempat pengolahan dapat terus ditekan.






