Warungjurnalis, Jakarta – Juru bicara penanganan dan vaksinasi COVID-19 pemerintah, dr. Reisa Broto Asmoro mengingatkan bahwa masyarakat saat belum divaksin atau suntikan vaksin belum lengkap untuk segera melakukan vaksinasi. Karena berdasarkan data WHO, vaksin terbukti efektif mengurangi rawat inap dan mengurangi resiko kematian.

“WHO dalam jumpa persnya mengatakan, bahwa data-data sudah cukup kuat, vaksin efektif mengurangi rawat inap dan mengurangi resiko kematian. Yang belum divaksin segera ke sentra vaksinasi terdekat, dan yang baru satu disuntikan maka segera dilengkapi,” ucap kata dr. Reisa dalam keterangan pers juru bicara pemerintah dokter Reisa Broto Asmoro di kantor presiden yang disiarkan secara daring melalui kanal Youtube Sekretariat Presiden, Jumat (19/11).

Reisa juga menambahkan jika semua vaksin COVID-19 sama efektivitasnya, terlebih sudah diperbolehkan oleh badan POM yang dipastikan aman.

“Semua merek vaksin sama efektifnya, disetujui badan POM yang artinya aman, bermutu berkhasiat,” tambahnya

Terkait suntikan ketiga, atau vaksin booster, Reisa meminta kepada masyarakat untuk tidak memikirkan atau hanya fokus kapan menanti vaksin ketiga, atau vaksin booster. Tetapi bagaimana vaksinasi ini setara dan merata di semua kelompok di seluruh Indonesia.

“Hanya dengan bersama-sama kita bisa mengakhiri pandemi, bukan suntikan booster yang seharusnya kita cari, tetapi booster atau alat untuk meningkatkan kekebalan bersama yang harus kita fokuskan saat ini,” kata Reisa.

Dalam jumpa persnya, Reisa juga mengutip Dr Maria Van Kerkhove dari WHO bahwa vaksin harus menjangkau yang orang-orang yang paling membutuhkannya, jadi bukan hanya tentang berapa cakupan vaksin yang telah dicapai, tapi juga tentang siapa saja orang yang sudah divaksinasi.

“Program vaksinasi Covid-19 Indonesia sejatinya bukan hanya tentang siapa yang divaksinasi tetapi juga tentang siapa saja yang belum divaksinasi,” terangnya.

Per Jumat (19/11) ini, jumlah total vaksin COVID-19 yang sudah diterima di Indonesia per hari hampir 350 juta atau 348,6 juta dosis vaksin baik bentuk jadi maupun bahan baku atau bulb.

Untuk mencegah gelombang ketiga Covid-19, dr Reisa mengingatkan adanya kenaikan kasus Covid-29 yang baru-baru ini terjadi di Amerika dan Eropa. Dirinya juga mengutip Dr Maria Van Kerkhove dari WHO jika tidak ada pengaturan kegiatan masyarakat atau PPKM maka tidak menutup kemungkinan virus dipastikan berkembang dan naik.

“Karena ketika kita menghilangkan langkah-langkah pencegahan dan tidak lagi mengikuti panduan PPKM atau panduan kesehatan masyarakat, dan aktivitas sosial WHO. Ketika kita legah seputar penggunaan masker dan menjaga jarak dan tidak lagi memperhatikan ventilasi, tidak lagi menghindari keramaian sementara varian baru virus masih ada. selamakita masih meningkatkan mobilitas sosial kita sementra cakupan vaksinasi belum 100 persen maka anda akan melihat virus akan berkembang. Dan itulah yang terjadi di Amerika dan Eropa,” katanya.

Mendekati perayaan Natal dan Tahun Baru (Nataru) pemerintah juga berencana akan menerapkan PPKM level 3 di seluruh wilayah Indonesia yang akan berlaku mulai dari 24 Desember 2021. Untuk penerapan kebijakan tersebut dalam bentuk Instruksi Menteri Dalam Negeri (Inmendagri) terbaru selambat-lambatnya diterbitkan pada 22 Desember 2021.

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy mengatakan dalam penerapan PPKM level 3 di seluruh wilayah Indonesia ini, ada sejumlah kegiatan yang nantinya dilarang pelaksanaannya pada libur Natal 2021 dan tahun baru 2022.

“Dalam kebijakan libur Natal dan tahun baru ini, sejumlah kegiatan seperti perayaan pesta kembang api, pawai, arak-arakan yang mengumpulkan kerumunan besar sepenuhnya dilarang,” ujar Muhadjir, Rabu (17/11)

Kebijakan larangan kegiatan dan penerapan PPKM level 3 di seluruh Indonesia dilakukan dalam rangka memperketat pergerakan orang guna mencegah lonjakan kasus COVID-19.

Comment