Warungjurnalis, Jakarta – Pandemi COVID-19 yang melanda Indonesia sejak 2020 lalu mengajarkan Endang Sriwati (40) lebih sabar. Pedagang warung nasi ini harus bertahan di tengah hempitan kebutuhan yang meningkat hingga berkurang pembeli.

Meski demikian, Endang tetap bertahan di tengah merugi makanan miliknya yang tak habis lantaran berkurangnya pembeli.

“Hampir dua tahun sejak PSBB pertama hingga PPKM ini masih tetap berjualan meski kadang pendapatan naik turun bahkan hingga merugi,” kata Endang ditemui di warungnya, jalan Daan Mogot, Grogol Petamburan, Jakarta Barat, Kamis (30/9/2021).

Bersama suaminya Parmin, Endang memulai usaha warteg sejak 2014 silam. Pundi pundi uang berhasil ia tabung untuk memenuhi kebutuhan sehari hari. Selain itu, dari pendapatan itu, ia juga mengingrimkan uang untuk keluarganya ke kampung di Purwodadi, Grobogan Jawa Tengah.

Warteg Endang terbilang strategis, selain menjadi perlintasan jalan alternatif masyarakat menuju kawasan tanjung duren, di sekitar warungnya terdapat beberapa usaha sehingga banyak pekerja yang makan di usaha miliknya.

Sempat bahagia dengan pendapatan sehari hari, suasana berubah saat Pandemi COVID-19 melanda. Larangan berkerumun, makan di tempat, hingga penerapan work from home (wfh) membuat pelanggan perlahan menghilang.

“Pendapatan masih normal. Misal belanja satu juta rupiah, bisa dapat 1,2 atau 1,3 juta rupiah,” terang Endang.

Karena beragam aturan itu, omset Endang jadi anjlok. Jangankan untuk mengirim uang ke kampung, untuk memenuhi kebutuhan sehari hari dirasa sudah cukup.

Pasalnya, selama PSBB maupun PPKM omset warteg Endang sendiri tak kurang dari 50 persen.

“Untuk 50 persen aja sudah bersyukur,” kenang Endang.

Sempat terlintas untuk menutup warungnya dan memilih tinggal di Kampung. Namun suami meminta untuk bersabar, beragam cara mendapatkan penghasilan mulai ia lakukan dengan menyambil pekerjaan lain.

Cara itu tak mampu menutupi kebutuhan dirinya dan keluarga di kampung. Alhasil Endang terpaksa kembali berhutang demi menutupi kebutuhan, padahal sebelum pandemi melanda, hutangnya nyaris lunas.

Meski demikian, kegigihan dan kesabaran mulai terbayar seiring kondisi Pandemi COVID-19 yang membaik. Perlahan tapi pasti ia pun mampu menabung sedikit dari hasil penjualan nasinya.

Karenanya, ia berharap Pandemi COVID-19 agar menghilang dan kondisi kembali normal. Selain itu ia berharap pemerintah agar menyusun atau mempertimbangkan ulang saat membuat aturan maupun kebijakan. Hal ini agar orang rendah seperti dirinya tak dirugikan.

“Sehingga sekalipun ada aturan saya tak harus rugi,” tutupnya.

Comment