Warungjurnalis, Jakarta – Seorang Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Karawang, Jawa Barat yang ditempatkan ke Baghdad, Irak sebagai Penata Laksana Rumah Tangga (PLRT) mengalami kekerasan fisik. Kini kasus tersebut terus dikawal oleh Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI).

Kasus ini bermula dari aduan PMI Yuni Asih kepada BP2MI, melalui FPMI Jawa Barat pada 10 Agustus 2021. Dalam aduan tersebut, Yuni mengaku mengalami kekerasan fisik berupa pemukulan, penggundulan, serta penusukan dengan garpu oleh majikannya.

Kepala BP2MI, Benny Rhamdani mengatakan, pihaknya langsung sigap menindaklanjuti laporan tersebut. BP2MI langsung berkoordinasi dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Baghdad. Atas koordinasi tersebut, KBRI Baghdad telah menginformasikan beberapa informasi mengenai PMI Yuni Asih.

“Tanggal 28 Juli 2021, KBRI telah berkomunikasi dengan PMI Yuni Asih dan disampaikan bahwa PMI tersebut dalam keadaan sehat dan meminta kontak calo (sponsor) atau agency yang ada di Irak,” ujar Benny dalam konferensi persnya secara virtual pada Rabu (15/9)

Menurutnya, pihak BP2MI saat ini sedang menelusuri identitas hingga keberadaan dari calo PMI Yuni Asih yakni Nurbaety. Karena hingga kini nomor telepon calo tersebut tidak dapat dihubungi.

Sebagai informasi, lanjut Benny, Nurbaety merupakan pelaku Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) yang sebelumnya pernah digerebek oleh BP2MI atas upaya penempatan PMI ke Taiwan dan Polandia secara non prosedural.

Bahkan menurut Benny, sebanyak lebih dari 20 orang saat ini tengah menjadi Daftar Pencarian Orang (DPO) oleh Kepolisian Resort (Polres) Indramayu.

“Satu jam yang lalu, saya langsung berkoordinasi dengan KBRI, dan dari pembicaraan tersebut, disampaikan bahwa pada bulan Juni, PMI terkendala atas nama Yuni Asih sudah mengadu ke KBRI melalui video call. Yuni Asih juga pernah ditusuk garpu oleh majikannya,” ujar Benny yang juga telah berkoordinasi via telepon dengan KBRI Baghdad melalui Pelaksana Fungsi Konsuler Zaenul, Rabu (15/09)

Tak hanya sampai di situ, pada tanggal 28 Juli, Yuni Asih kembali menyampaikan pesan melalui Whatsapp bahwa dirinya pernah dipukul punggungnya dan dicubit oleh majikannya. Untuk menindaklanjuti kasus ini.

KBRI Baghdad telah menjalin komunikasi intensif dengan PMI Yuni Asih dan sedang mengkoordinasikan kasus ini dengan otoritas setempat termasuk meminta penyelidikan atas dugaan kekerasan.

“KBRI Baghdad tengah berkoordinasi dengan otoritas setempat, agar para PMI tersebut dapat tinggal di shelter KBRI Baghdad sambil menunggu proses hukum lebih lanjut. Kami telah mencoba menghubungi Yuni Asih, namun tidak diangkat,” jelasnya.

Benny juga berjanji, BP2MI akan terus mengawal masalah yang disampaikan oleh Yuni Asih. BP2MI terus memperjuangkan kepulangannya, agar segera mendapatkan penanganan melalui KBRI Baghdad.

“Negara dan penegak hukum tidak boleh dikalahkan oleh seorang calo bernama Nurbaety, seorang pelaku TPPO yang telah memperjualbelikan anak-anak bangsa dan mengambil keuntungan atas tindak kejahatan itu,” tandasnya.

Comment